Pencarian
Teknologi

Simulasi Dogfight Beyond Visual Range Rafale Indonesia Vs J-10 C China Diatas Laut Natuna Utara

Pada pertengahan 2026, Bayraktar Akıncı milik TNI AU sedang melakukan patroli rutin di atas Laut Natuna Utara. Dilengkapi pod Electronic Warfare (Aselsan Asoj-234U EW pod) dan sensor EO/IR, Akıncı mendeteksi pergerakan 3 kapal asing dari arah utara memasuki zona ekonomi eksklusif Indonesia.

Prompter JejakAI
Rabu, 28 Mei 2025
Oleh: Dimasti Dano
JejakAI
Leonardo AI

Boeing 737 Surveiller dari Skadron Udara 5 dikerahkan untuk memverifikasi kontak.  Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ketiga kapal tersebut adalah: Kapal survey Haiyang Dizhi-10, dikawal oleh coast guard (CCG 5402 ) dan fregat type 054A Huangshi 531 dari East Sea Fleet

Kapal coast guard Indonesia KN Tanjung Datu 1101 dikawal kapal frigate TNI AL KRI REM 331 yang sedang berpatroli, segera  melakukan gerakan membayangi dalam jarak 1 nm  sambil melakukan komunikasi diplomatik (hailing) melalui kanal radio maritim terbuka (VHF). 

Tonton videonya di sini: Simulasi Dogfight Beyond Visual Range antara Rafale TNI AU VS J-10C PLA AF di Laut Natuna Utara

Seluruh data real-time ISR (Intelligence, Surveillance and Reconnaissance) dari Bayraktar Akinci, Boeing 737 Surveiller, KRI REM 331 dan KN Tanjung Datu dikirim ke Pusat Komando  Command, Control, Communications, Computers, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (C4ISR) gabungan TNI  (Cilangkap). Pada saat bersamaan, data dari satelit ISR Perancis—Helios II dan CSO (Composante Spatiale Optique)—ditransmisikan secara langsung ke pusat komando C4ISR gabungan TNI di Cilangkap. 

Mabes TNI memerintahkan: Empat Rafale TNI AU dengan dukungan sistem peperangan elektronik SPECTRA dan rudal Meteor. lepas landas dari Lanud Ranai untuk memback-up KN Tanjung Datu dan KRI REM 331. 

Sistem ISR China melalui satelit Beidou mengidentifikasi formasi tempur pesawat Rafale TNI AU. Dalam waktu singkat, empat J-10C yang dilengkapi dengan rudal PL 15, satu J-16D Electronic Warfare, dan satu KJ-500 AEW&C bergerak ke zona udara sengketa

Rafale TNI AU mengaktifkan SPECTRA: mengaktifkan Passive sensor sweep, mendeteksi radar J-10C dan KJ-500 tanpa memancarkan sinyal balik. Kemudian mengaktifkan decoy, jammer radar, dan spoofing terhadap jet tempur musuh. Sementara Bayraktar Akinci tetap melakukan pengintaian dan jamming low-power terhadap komunikasi VHF kapal musuh.

Pihak China: J-16D mulai melakukan Jamming radar Rafale (RBE2 AESA) pada band tertentu dan Spoofing GPS terbatas terhadap area drone, tetapi upaya ini tidak berhasil karena Bayraktar Akıncı menggunakan Inertial Navigation System (INS) yang terintegrasi dengan sistem fusi sensor internal. SPECTRA Rafale mengacaukan hasil pencitraan radar melalui deceptive emissions dan stealth masking,  membuat J-10C gagal lock-on akurat.

KJ-500 sebagai pesawat AWACS berperan sebagai sebagai relay dan pusat komando.

Di udara, konfrontasi intens terus berlanjut. J-16D melepaskan jamming radar. Namun, Bayraktar membalas interferensi, sementara sistem SPECTRA Rafale melakukan false signal injection dan digital radio deception. 

Boeing 737 Surveiller TNI AU bertindak sebagai pusat kendali udara lapangan, menyuplai posisi musuh secara akurat melalui radar maritim dan udara.

Meski siap menembakkan rudal Meteor, pemerintah Indonesia menetapkan ROE (Rules of Engagement) ketat, untuk menahan peluncuran rudal Meteor demi mencegah eskalasi yang lebih besar dan menjaga stabilitas kawasan. 

Dengan keunggulan informasi, sinergi platform udara, dan dukungan satelit ISR dari Prancis, TNI AU memaksa China mundur tanpa melepas satu peluru pun.”

Rafale kembali ke LANUD Ranai dengan flight intact, sistem EW sukses bertahan dan menangkal BVR lock.

Patroli udara digantikan oleh 1 flight  F-16 Block 52ID TNI AU, yang dipersenjatai AIM-120C-5/7 AMRAAM yang juga mempunyai kemampuan dogfight BVR, untuk konektifitas terhubung dengan Link 16.

Bayraktar Akinci dan boeing 737 surveiller tetap di udara sebagai mata dan telinga perbatasan.

Pusat Komando Gabungan mencatat:

Tidak ada peluncuran rudal.

Dominasi spektrum elektromagnetik berhasil diperoleh.

China terpaksa menarik kekuatan karena superioritas Electronic Warfare dan Rule of Engagment Indonesia.

Operasi udara modern bukan soal kekuatan senjata semata. Keunggulan data, koordinasi platform ISR, dan dominasi EW adalah kunci dalam dogfight BVR .

Tonton juga: Simulasi Dogfight Beyond Visual Range Rafale India VS J-10C Pakistan
Komentar
Silakan lakukan login terlebih dahulu untuk bisa mengisi komentar.
JejakAI
Exploring AI for Humanity
JejakAI adalah situs web yang membahas berita, tren, dan perkembangan terbaru seputar kecerdasan buatan, menghadirkan analisis mendalam serta informasi terkini tentang inovasi di dunia AI.
Copyright © 2026 JejakAI. All Rights Reserved. | dashboard